Jumat, 24 Mei 2013

BUNGA (FLOS) - bagian 4

Diposting oleh Unknown di 05.57 0 komentar

Putik (Pistillium)
Putik merupakan bagian bunga yang paling dalam letaknya, dan kalau benang sari merupakan alat kelamin jantan bagi bunga, maka putik merupakan merupakan alat kelamin betinanya. Daun daun penyusun putik disebut daun buah, dan daun-daun buah sebagai keseluruhan yang menyusun putik itu dinamakan gynaecium, bahwasanya putik itu merupakan metamorfosis dari daun sudah amat susah dibuktikan, tetapi pada tumbuhan yang berbiji telanjang, misalnya pakis haji hal itu masih kelihatan. Putik merupakan alat kelamin betina yang mengandung sel telur yang setelah dibuahi oleh sel sperma yang berasalh dari serbuk sari yang akhirnya akan berkembang menjadi lembaga, dan lembaga itulah yang nantinya akan akan merupakan tumbuhan baru. Bagian utik yang mengandung sel telur itu namanya bakal biji yang akhirnya akan menjadi biji dan sementar itu bagian putik yang di dalamnya terdapat bakal biji tadi, yaitu buahnya, akan berubah menhadi buah.
Menurut banyaknya daun buah yang menyusun sebuah putik, putik dapat dibedakan dalam :
1.         Putik tunggal, yaitu jika putik hanya tersusun atas sehelai daun buah saja misalnya pada jenis tumbuhan yang termasuk polong-polongan
2.         putik majemuk, jika putik terjadi dari dua daun buah atau lebih, seperti pada kapas.
Bagian-bagian putik dapat dibedakan menjadi :
1.         bakal buah, yaitu bagian putik yang lazimnya kelihatan membesar dan duduk pada dasr bunga
2.         tangkai kepala putik, bagian putik yang serapit dan dapat di atas bakal buah, biasanyua berbentuk benang
3.         kepala putik ialah putik bagian yang paling atas terletak pada ujung tangkai kepala putik.
Bakal Buah (Ovarium)
            Bakal buah adalah bagian putik yang membesar, dan biasanya terdapat di tengah-tengah dasar bunga. Dalam bakal buah terdapat calon biji atau bakal biji.
Menurut letaknya terhadap dasr bunga kita membedakan :
1.         Bakal buah menumpang yaitu jika bakal buah dududk di atas dasar bunga sedemikian rupa, sehingga bakal buah tadi lebih tinggi dari pada tepi bunga
2.         Setengah tenggelam yaitu jika duduknya bakal buah duduk pada dasar bunga yang cukung, jadi tempat duduknya bakal buah selalu lebih rendah dari pada tepi dasar bunga
3.         Tenggelam, sama seperti setengah tenggelam, tetapi seluuh bagian samping bakal buah berlekatan dengan dasar bunga yang berbentuk mangkuk atau piala tadi.
Berdasarkan jumlah ruang yang terdapat dalam suatu bakal buah, dapat dibedakan :
1.         Bakal buah berumah 1, yaitu bakal buah yang tersusun atas 1 daun buah saja
2.         bakal buah berumah 2, yaitu bakal buah yang tersusun atas 2 daun buah saja
3.         bakal buah berumah 3, yaitu bakal buah yang tersusun atas 3 daun buah saja
4.         bakal buah berumah banyak, yaitu bakal buah yang tersusun atau lebih dari 3 daun buah.
Dari ruang tadi maka ada yang pemisah atau yang sdisebut dengan sekat. sekat-sekat yang membagi ruang dapat dibedakan menjadi :
a.       Sekat Sempurna, yaitu jika sekat ini benar-benar membagi bakal buah menjadi lebih dari satu ruang dan ruang-ruang yang terjadi tidak lagi mempunyai hubungan satu sama lain, dan dibedakan :
1.        Sekat asli, yaitu jika sekat ini berasal dari bagian daun buah yang melipat ke dalam yang lalau berubah menjadi sekat, misalnya pada durian.
2.        Sekat semu, jika sekat tadi bukan merupakan sebagian dari daun buah, tetapi misalnya terdiri atas suatu jaringan yang terbentuk oleh dinding buah.
Sekat yang tidak sempurna, yaitu sekat-sekat yang membagi bakal buah menjadi beberapa ruang, tetapi ruang-ruang itu masih ada hubunganya satu sama lain.

Tembuni (Placenta)
            Di dalam bakal buah terdapat calon-calon biji yang dinamakan bakal biji, yang berjumlah satu atau lebih. Bakal biji itu dalam bakal buah terdapat pada bagian khusus yang menjadi pendukung bakal biji tadi. Bagian bakala buah yang menjadi pendukung bakal biji atau menjadi tempat duduknya bakal biji dinamakan tembuni.
Menurut Letaknya tembuni dibedakan dalam yang :
1.      Marginal, jika letaknya pada tepi buah
2.      Laminal, jika letaknya pada helaian buah
Untuk bakal buah yang hanya terdiri atas 1 ruang maka kemungkinan letak tembuninya :
1.      Pariental yaitu pada dinding bakal-bakal buah
2.      Sentral, jika tembuni terdapat di tengah-tengah rongga bakal buah yang beruang 1
3.      dan Aksilar, jika tembuni terdapat pada bakal buah yang beruang lebih dari pada 2 dan tembuni tadi terdapat dalam sudut pertemuan daun-daun buah.

Bakal Biji
            Bakal biji atau calon biji sendiri duduk pada tembuni dengan cara yang berbeda-beda pula, bakal biji dapat dibedakan atas :
1.      Kulit bakal biji yaitu lapisan bakal biji yang paling luar
2.      Badan bakal biji yaitu jaringan yang diselubungi kulit biji
3.      Kandung lembaga merupakan suatu sel yang memiliki sel ovum
4.      Liang bakal biji yaitu liang yang menjadi jalan bagi inti kelamin jantan yang berasal dari buluh serbuk sari
5.      dan Tali pusar yaitu penghubung bakal biji dengan tembuni
Posisi bakal biji pada tembuni dapat dibedakan atas :
1.      Tegak, jika liang bakal biji letaknya pada satu garis dengan tali pusar dengan arah yang berlawanan
2.      Mengangguk bakal biji dan tali pusar sejajar dan tali pusar mengalami pembengkokan
3.      Bengkok, jika bakal biji dan tali pusar membengkok
4.      Setengah mengangguk, jika hanya ujung tali pusar yang membelok sehinga membentuk sudut 90ยบ
5.      Melipat, jika tali pusar tetap lurus tetapi bakal bijinya sendiri yang melipat
Disamping itu masih banyak lagi variasi posisinya, misalnya membengkoknya tali pusar dll. Semua tumbuhan dengan bakal biji yang tersembunyi di dalam bakal buah dijadikan satu golongan yang dinamakan tumbuhan biji tertutup. Dan kebalikan dari tumbuhan biji tertutup ialah tumbuhan biji terbuka atau tidak tersembunyi pada bakal buah misalnya pakis haji
Tangkai Kepala Putik (Stylus)
            Dalam menguraikan bagian-bagian putik, telah disebutkan, bahwa tangkai kepala putik merupakan bagian putik yang biasanya berbentuk benang dan merupakan lanjutan bakal buah ke atas, karena tiap daun buah ke atas membentuk satu tangkai kepala putik.
Umumnya tangkai kepala putik mudah dibedakan dari tangkai sari, karena kebanyakan lebih besar. Ada kalanya tangkai kepala putik masih memperlihatkan asalnya sebagai metamorfosis daun, yaitu mempunyai bentuk yang pipih lebar seperti daun, misalnya pada bunga tasbih.
Kepala Putik (Stigma)
            Kepala putik adalah bagian putik yang paling atas, yang terdapat pada ujung tangkai kepala putik atau ujung cabang kepala putik itu. Bagian ini berguna untuk menangkap serbuk sari, jadi mempunyai pernana yang penting dalam penyerbukan.
Bentuk kepala putik amat beraneka ragam, biasanya disesuaikan dengan cara penyerbukan pada bunga yang bersangkutan.
1.        seperti benang, misalnya pada bunga jagung
2.        seperti bulu ayam, misalnya pada bunga padi
3.        seperti bulu-bulu, misalnya pada bunga kecipir
4.        bulat, misalnya pada bunga jeruk
5.        bermacam-macam bentuk lain misalnya seperti bibir, cawan, atau mahkota.
Kelenjar Madu (Nectarium)
            Berbagai jenis tumbuhan mempunyai bunga yang menghasilkan madu, dan oleh karena bunga itu lalu mendapat kunjungan berbagai macam binatang (serangga, burung) untuk mendapatkan madu tadi. Bunga yang dikunjungi binatang itu merupakan bunga yang siap untuk diserbuki. Dalam kunjungannya pada bunga untuk mencari makan, pada binatang tadi akan melekat serbuk-serbuk sari yang pada kunjungannya pada bunga lain serbuk yang terbawa itu ada kemungkinan menyentuh kepala putik dan demikian terjadilah penyerbukan. Madu yang terdapat pada bunga biasanya dihasilkan oleh kelenjar madu yang berdasar asalnya dapat dibedakan dalam :
1.        kelenjar madu yang merupakan suatu bagian khusus (suatu alat tambahan  bunga)
2.        kelenjar madu yang terjadi salah satu bagian bunga yang telah mengalami metamorfosis dan telah berunbah juga tugas dan fungsinya.
Kelenjar madu yang merupakan metamorfosis salah suatu bagian bunga yang berasal dari :
1.        daun mahkota,
2.        benang sari,
3.        bagian-bagian lain pada bunga.

Penyerbukan atau Persarian dan Pembuahan
            Yang dinamakan dengan penyerbukan ialah jatuhnya serbuk sari pada kepala putik atau jatuhnya serbuk sari langsung pada bakal biji (untuk tumbuhan biji telanjang), sedangkan yang dinnamakan denga n pembuahan ialah terjadinya perkawinan sel telur yang terdapat dalam kandung lembaga di dalam bakal biji dengan suatu inti yang berasal dai serbuk sari.
Penyerbukan dapat dibedakan atas :
1.        Penyerbukan sendiri, jika serbuk sari yang jatuh di kepala putik berasal dari bunga itu sendiri
2.        Penyerbukan tetangga, jika serbuk sari yang jatuh di kepala putik berasal dari bunga lain pada tumbuhan itu juga
3.        Penyerbukan silang, jika serbuk sari yang jatuh di kepala putik itu berasal dari bunga tumbuhan lain tetapi masih dalam jenis yang sama
4.        Penyerbukan bastar, jika serbuk sari berasal dari bunga pada tumbuhan lain yang berbeda jenisnya atau sekurang-kurangnya mempunyai sifat yang beda.
Para ahli menilai penyerbukan sendiri banyak mempelihatkan sifat-sifat yang lebih buruk dari induknya, misalnya lebih mudah terserang penyakit, buah sedikit dan mundur kualitasnya dsb. Walau ada juga yang yang tidak.
Penyerbukkan bastar dapat terjadi dengan sendirinya dalam alam, tetapi sering kali dilakukan oleh perantara manusia dengan sengaja untuk tujuan mendapatkan keturunan baru dengan sifat-sifat tertentu. Pembastaran dapat dilakukan dengan cara :
1.        antara dua tumbuhan yang berbeda varietas
2.        antara 2 jenis tumbuhan atau antar spesies
3.        antara 2 jenis tumbuha yang berbeda marga (genus)

Karena penyerbukan sendiri itu mampu mengakibatkan degenerasi maka dapat dicegah dengan dan terbukti dengan adanya hal-hal berikut :
1.        tumbuhan berumah 2, artinya tumbuhan mempunyai bunga jantan dan bunga betina yang letaknya pada dua individu yang berlainan, dengan demikian satu-satunya cara penyerbukan yang dapat terjadi adalah penyerbukan silang.
2.        adanya dikogami, artinya masaknya kepala sari dan putik tidak bersamaan waktu masaknya.
Dikogami dapat dibedakan menjadi :
1.        protandi, jika dalam satu bunga yang masak lebih dulu adalah kepala sarinya
2.        protogini, jika yang masak terlebih dahulu adalah putiknya
3.        herkogami, jika pada bunga yang sempurna, duduknya kepala sari dan kepala putik amat berjauhan satu sama lain, seperti misalnya terdapat pada bunga tumbuhan yang berbunga kupu-kupu
4.        heterostili, artinya sutau varietas herkogami, bila pada beberapa individu tumbuhan sejenis terdapat bunga-bunga dengan benang sari dan tangkai putik yang berbeda sekali panjangnya, sehingga denga demikian penyakit bukan sendiri tak mungkin dapat terjadi.
5.        dan sterilitas (mandul)
Menurut vektor atau perantara yang menyebabkan sapat berlangsungnya penyerbukan dapat dibedakan atas :
1.        Penyerbukan dengan perantara angin
2.        penyerbukan dengan perantara air
3.        dan penyerbukan dengan perantara binatang
Diagram Bunga
Dalam mendeskripsikan bunga, di samping secara verbal (dengan kata-kata) dapat ditambahkan gambar-gambar, agar pem­baca dapat memperoleh kesan yang lebih mendalam tentang kea­daan bunga. Salah satu gambar yang melukiskan keadaan bunga dan bagian-bagiannya adalah diagram bunga.
Yang dinamakan diagram bunga ialah suatu gambar proyeksi pada bidang datar dari semua bagian bunga yang dipotong melin­tang, jadi pada diagram itu digambarkan penampang-penampang melintang daun-daun kelopak, tajuk bunga, benang sari, dan putik, juga bagian-bagian bunga lainnya jika masih ada, di samping keem­pat bagian pokok tersebut di atas. Perlu diperhatikan, bahwa lazim­nya dari daun-daun kelopak dan tajuk bunga digambar penampang melintang bagian tengah-tengahnya. sedang dari benang sari digambarkan penampang kepala sari, dan dari putik penampang melintang bakal buahnya. Dan diagram bunga itu selanjutnya dapat diketahui pula jumlah masing-masing bagian bunga tadi dan bagaimana letak dan susunannya antara yang satu dengan yang lain. Selain dari itu perlu diingat pula, bahwa diagram bunga sedikit banyak merupakan suatu gambar yang bersifat skernatik.
Dalam membicarakan tentang bunga dan bagian-bagiannya, telah diterangkan, bahwa bagian-bagian bunga duduk di atas dasar bunga, masing-masing teratur dalam satu lingkaran atau lebih. Dalam diagram bunga, masing-masing bagian harus digambarkan sedemikian rupa, sehingga tidak mungkin dua bagian bunga yang berlainan digambarkan dengan lambang yang sama. Mengingat, bahwa yang digambar pada diagram itu penampang-penampang melintang masing-masing bagian bunga seperti telah diuraikan di atas, maka kemungkinan adanya persamaan gambar hanyalah mengenai daun-daun kelopak dan daun tajuk bunga, sedangkan mengenai benang sari dan putiknya rasanya tidak akan terjadi kekeliruan. Oleh sebab itu kelopak dan daun tajuk harus selalu digambar dengan lambang-lambang yang jelas berbeda, walaupun bentuknya mirip satu sama lain.
Bagaimanakah caranya untuk membuat suatu diagram ounga? Jika kita hendak membuat diagram bunga, kita harus memperhatikan hal-hal berikut:
letak bunga pada tumbuhan. Dalam hubungannya dengan perencanaan suatu diagram, kita hanya membedakan dua macam letak bunga:
bunga pada ujung batang atau cabang (flos terminalis).
bunga yang terdapat dalam ketiak daun (flos axillaris), 2. bagian-bagian bunga yang akan kita buat diagram tadi tersusun dalam berapa lingkaran. Cara membuat diagram bunga.
Jika dari bunga yang hendak kita buat diagramnya telah kita tentukan kedua hal tersebut, kita mulai dengan membuat sejumlah lingkaran yang konsentris, sesuai dengan jumlah lingkaran tempat duduk bagian-bagian bunganya, kemu­dian melalui titik pusat lingkaran-lingkaran yang konsentris itu kita buat garis tegak lurus (vertikal). Untuk bunga di ketiak daun, garis itu menggambarkan bidang yang dapat dibuat melalui sumbu bnga, sumbu batang yang mendukung bunga itu, dan tengah-tengah
(poros bujur) daun, yang dari ketiaknya muncul bunga tadi. Bidang ini disebut bidang median. Pada garis yang menggambarkan bi­dang median itu di sebelah atas lingkaran yang terluar digambarkan secara skematik penampang melintang batang dan di sebelah bawahnya gambar skematik daun pelindungnya. Pada lingkaran-lingkarannya sendiri berturut-turut dari luar ke dalam digambar daun-daun kelopak. daun-daun tajuk. benang sari. dan yang terakhir penampang melintang bakal buah. Dalam menggambar bagian-bagian bunganya sendiri yang harus diperhatikan ialah:
berapa jumlah masing-masing bagian bunga tadi.
bagaimana susunannya terhadap sesamanya (misalnya daun kelopak yang satu dengan yang lain): bebas sama lain, bersentuhan tepinya. berlekatan. atau lain lagi.
bagaimana susunannya terhadap bagian-bagian bunga yang lain (daun-daun kelopak terhadap daun-daun tajuk bunga. benang sari. dan daun-daun buah penyusun putiknya): berhadapan atau berseling. bebas atau berlekatan. dan seterusnya),
bagaimana letak bagian-bagian bunga itu terhadap bidang me­dian.
Ternyata. bahwa seringkali bidang median itu membagi bunga dalam dua bagian yang setangkup (simetrik).
Bagi bunga yang letaknya pada ujung batang/cabang. tidak dikenal bidang mediannya. di sebelah atas lingkaran yang terluar tidak pula digambar penampang melintang batang (karena pada bunga yang demikian batang itu akan bersambung dengan tangkai bunga). tetapi pada sebelah bawah biasanya masih ditambahkan gambar penampang melintang daun pelindung (jika ada).
Jadi dengan demikian. pada suatu diagram bunga tidak hanya-- kita ketahui hal-hal yang menyangkut bagian-bagian bunganya saja. tetapi juga dapat diketahui mengenai letaknya pada tumbuhan. Pada gambar berikut diberikan contoh diagram bunga yang di ketiak daun dan yang terdapat pada ujung batang/cabang.
Telah dikemukakan pula. bahwa dalam pembuatan diagram bunga selain keempat bagian bunga yang pokok: kelopak. tajuk, benang sari. dan putik. dapat pula digambar bagian-bagian lain, jika memang ada dan dipandang perlu untuk dikemukakan. Bagian­bagian lain pada bunga yang seringkali dapat menjadi ciri yang khas untuk golongan tumbuhan tertentu dan sewajarnya pula jika
 a. Diagram bunga aksilar. b. Diagram bunga terminal.
dinyatakan pada diagram bunga, a.l.:
kelopak tambahan (epicalyx), umum terdapat pada tumbuhan suku Maluaceae. misalnya: kapas (Gossupium sp.). kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.). dll.
mahkota (tajuk) tambahan (corona), yang biasa terdapat pada suku• Asclepiadaceae, misalnya: biduri (Calotropis gigantea Dryand.).
Dikemukakan pula dalam membicarakan perihal bagian­bagian bunga, bahwa ada bagian-bagian bunga yang mengalami metamorfosis atau tereduksi atau lenyap sama sekali. Bertalian dengan soal ini dalam menyusun diagram bunga kita dapat berpen­dirian:
hanya menggambarkan bagian-bagian bunga menurut apa adanya,
membuat diagram bunga yang tidak hanya memuat bagian­bagian yang benar-benar ada, tetapi juga menggambarkan bagian-bagian yang sudah tidak ada (tereduksi), namun menurut teori seharusnya ada.
Dengan demikian kita dapat membedakan dua macam diagram bunga:
diagram bunga empirik, yaitu diagram bunga yang hanya memuat bagian-bagian bunga yang benar-benar ada, jadi meng­gambarkan keadaan bunga yang sesungguhnya, oleh sebab itu diagram ini juga dinamakan diagram sungguh (yang sebenarnya).
diagram teoritik, yaitu diagram bunga yang selain menggam­barkan bagian-bagian bunga yang sesungguhnya, juga memuat bagian-bagian yang sudah tidak ada lagi, tetapi menurut teori seharusnya ada.
Bagian-bagian yang hanya menurut teori saja seharusnya ada, tidak digambar seperti bagian-bagian yang benar-benar ada, melainkan dengan lambang lain, biasanya bintang atau silang kecil. Kebanyakan hal ini hanya mengenai benang-benang sari saja, yang keadaan yang sesungguhnya pada bunga seringkali tidak cocok dengan teori.
a.       Diagram teoritik.
b.      Diagram empirik.
Rumus Bunga
Kecuali dengan diagram, susunan bunga dapat pula dinyatakan dengan sebuah rumus, yang terdiri atas lambang­lambang, huruf-huruf, dan angka-angka, yang semua itu dapat memberikan gambaran mengenai berbagai sifat bunga beserta bagian-bagianya.
Lambang-lambang yang dipakai dalam rumus bunga memberitahukan sifat bunga yang bertalian dengan simetrinya atau jenis kelaminnya, huruf-huruf merupakan singkatan nama bagian­bagian bunga, sedang angka-angka menunjukkan jumlah masing­masing bagian bunga. Di samping itu masih terdapat lambang­lambang lain lagi yang memperlihatkan hubungan bagian-bagian bunga satu sama lain.
Oleh suatu rumus bunga hanya dapat ditunjukkan hal-hal mengenai 4 bagian pokok bunga sebagai berikut:
kelopak, yang dinyatakan dengan huruf K singkatan kata kalix (calyx), yang merupakan istilah ilmiah untuk kelopak,
tajuk atau mahkota, yang dinyatakan dengan huruf C singkatan kata corolla (istilah ilmiah untuk mahkota bunga),
3. benang-benang sari, yang dinyatakan dengan huruf A, singkatan kata androecium (istilah ilmiah untuk alat-alat jantan pada bunga),
4.putik, yang dinyatakan dengan huruf G, singkatan kata gynaecium (istilah ilmiah untuk alat betina pada bunga).
Jika kelopak dan mahkota sama, baik bentuk maupun war­nanya, kita lalu mempergunakan huruf lain untuk menyatakan bagian tersebut, yaitu huruf P, singkatan kata perigonium (tenda bunga).
Di belakang huruf-huruf tadi lalu ditaruhkan angka-angka yang menunjukkan jumlah masing-masing bagian tadi. dan di an­tara dua bagian bunga yang digambarkan dengan huruf dan.angka itu ditaruh koma.
Jika bunga misalnya iliempunyai 5 daun kelopak, 5 daun
mahkota, 10 benang sari dan putik yang terjadi dari sehelai daun buah. maka rumusnya adalah:
K 5. C 5 A 10, G 1. (bunga merak: Caesalpinia pulcherima Swartz.).
Jika kita mengambil contoh lain. yaitu bunga yang mem­punyai tenda bunga. misalnya lilia gereja (Lilium longiflorum Thunb,), yang mempunyai 6 daun tenda bunga. 6 benang sari dan sebuah putik yang terjadi dari 3 daun buah, maka rumusnya adalah:
P6.A6.G3.
Di depan rumus hendaknya diberi tanda yang menunjukkan simetri bunga. Biasanya hanya diberikan dua macam tanda simetri, yaitu: * untuk bunga yang bersimetri banyak (actinomorphus) dan tanda untuk bunga yang bersimetri satu (zygomorphus). Jadi dalam hal rumus bunga merak. yang bersifat zigomorf, rumusnya menjadi:
♀↑K5,A5,A10.G1
sedang bunga lilia gereja yang bersifat aktinomorf rumusnya men­jadi:
*P 6. A 6. G 3.
Selain lambang yang menunjukkan simetri pada rumus bunga dapat pUla ditambahkan lambang yang menunjukkan jenis kelamin bunga. Untuk bunga yang banci (hermaphroditus) dipakai lambang: Z;5. untuk bunga jantan dipakai lambang: 6 dan untuk bunga betina dipakai lambang: Q. Lambang jenis kelamin ditem­patkan di depan lambang simetri. Jika kedua contoh rumus tersebut di atas dilengkapi dengan lambang jenis kelaminnya. maka rumusnya menjadi:
♀↑K 5, C 5. A 10. G 1 dan
♀*P 6. A 6. G 3.
Suatu bagian bunga dapat tersusun dalam lebih daripada satu lingkaran. Bunga-bunga yang dipakai contoh di atas misalnya. masing-masing mempunyai bagian-bagiannya yang tersusun dalam 5 lingkaran. Bunga merak misalnya mempunyai 2 lingkaran benang sari. dengan 5 benang sari dalam tiap lingkaran. sedang bunga lilia gereja mempunyai 2 lingkaran daun tenda bunga dan 2 lingkaran 213
benang sari. tiap lingkaran berbilangan 3. Dalam hal yang demikian di belakang huruf yang menunjukkan bagian yang tersusun dalam lebih daripada satu lingkaran tadi harus ditaruh 2 kali angka yang menunjukkan jumlah bagian di dalam tiap lingkaran dengan tanda + (tanda tambah) di antara kedua angka tadi. Contoh kedua rumus di atas harus kita ubah menjadi :
♀↑ K 5, C 5, A 5 + 5, G 1 dan
♀*P 3 ± 3, A 3 + 3. G 3
Jika bagian-bagian bunga yang tersusun dalam masing­masing lingkaran itu berlekatan satu sama lain, maka yang menun­jukkan jumlah bagian bersangkutan ditaruh dalam kurung. Pada contoh di atas tadi. maka rumusnya harus kita ubah menjadi:
♀↑k (5). C 5, A 5 + 5, G 1
♀* (3 + 3), A 3 + 3, G (3)
karena pada bunga merak daun-daun kelopaknya berlekatan satu sama lain. sedang pada bunga lilia gereja yang berlekatan daun­daun tenda bunga dan daun-daun buahnya. Ada kalanya yang berlekatan adalah dua macam bagian bunga, misalnya benang­benang sari dengan daun-daun mahkota, seperti terdapat pada bunga waru (Hibiscus tiliaceus L.). Dalam keadaan yang demikian yang ditempatkan dalam kurung adalah kedua huruf beserta angka­nya yang menunjukkan kedua macam bagian bunga yang berlekat­an tadi. Pada contoh ini (bunga waru), benang-benang sarinya sen­diri berlekatan pula satu sama lain. oleh sebab itu angka yang
menunjukkan jumlah benang sari yang ditaruh dalam tanda kurung, sedang tanda-tanda yang menunjukkan mahkota dan benang­benang sari lalu ditaruh dalam kurung besar. Untuk jelasnya rumus bunga waru tadi adalah sepertiberikut:
♀*K (5). [ C 5. A (cx, ) 1. G (5).
Jadi pada bunga waru kita dapati banyak benang sari yang berlekatan satu sama lain dan seluruhnya berlekatan lagi dengan daun-daun mahkota.
Selain lambang-lamba-ng yang telah diuraikan di atas. dalam menyusun suatu rumus bunga masih ada lambang lain lagi. ialah lambang untuk menyatakan duduknya bakal buah (jadi juga
♀ * p 3 + 3, A 3 + 3. G (3)
Suku Papilionaceae. misalnya orok-orok, kembang telang (Clitoria ternatea L.):
♀↑ K (5). C 5. A 1 + (9), G 1
Suku Maluaceae, misalnya kapas (Gossypium sp.). ware (Hibiscus tiiiaceus L.). dll.
♀*K (5), [C 5, A ((---))]. G (5)
Suku Bombacaceae. misalnya kapok randu (Ceiba pentandr Gaertn.). durian (Durio zibethinus L.):
♀ * K (5). C 5. A (c./-) ). G (5)
Suku Solanaceae, misalnya: kecubung (Datura mete L.). tern bakau (Nicotiana tabacum L.). dll.
♀↑ K (5), C (5). A 5, G (2)
Suku Cruciferae (Brassicaceae), misalnya lobak (Raphan satiuus L.)
♀ *K 4, C 4, A 2 + 4. G (2)
Suku Nyctaginaceae, misalnya bunga pagi sore (Mirabilis jai L.)
♀* K 5, C (5), A 5, G (5)
Cukuplah kiranya contoh rumus dan diagram bunga, dan dengan memperhatikan patunjuk-petunjuk yang telah diberikan, tidak terlalu sulit kiranya untuk menyusun sendiri diagram ataupun rumus setiap bunga yang kita hadapi. 

BUNGA (FLOS) - bagian 3

Diposting oleh Unknown di 05.56 0 komentar

Dasar Bunga (Receptaculum atau Torus)
Telah dikemukakan, bahwa bunga dapat dianggap sebagai tunas yang mengalami metamorfosis dan dasar bunga adalah tidak lain dari ujung batang yang terhenti pertumbuhannya, biasanya menebal atau melebar, dan menjadi pendukung bagian-bagian bunga yang merupakan metamorfosis daun, yaitu kelopak, tajuk bunga, benang sari, dan putik. Karena terhentinya pertumbuhan batang, ruas-ruasnya menjadi amat pendek, oleh sebab itu bagian­bagian bunga yang berasal dari daun lalu tersusun amat rapat satu sama lain, hanya pada beberapa macam bunga saja masih tampak beruas-ruas, misalnya pada bunga cempaka (Michelia champaka L.).
Dasar bunga sering memperlihatkan bagian-bagian yang khusus mendukung satu bagian bunga atau lebih, dan bergantung pada bagian bunga yang didukungnya, bagian dasar bunga tadi diberi nama yang berbeda-beda.
a.       pendukung tajuk bunga atau antofor (anthophorum), yaitu bagian dasar bunga tempat duduknya daun-daun tajuk bunga, seperti terdapat pada bunga anyelir (Dianthus caryophyllus L.),
b.      pendukung benang sari atau androfor (androphorum), bagian dasar bunga yang seringkali meninggi atau memanjang dan menjadi tempat duduknya benang sari, misalnya pada bunga maman (Gynandropsis pentaphylla D.C.),
c.       c pendukung putik atau ginofor (gynophorum), suatu pening­gian pada dasar bunga yang khusus menjadi tempat duduknya putik, seperti terdapat pada bunga teratai besar (Nelumbium nelumbo Druce) dan cempaka (Michelia-champaca L.),
d.      pendukung benang sari dan putik atau androginofor (an­drogynophorum), bagian dasar bunga yang biasanya meninggi dan mendukung benang sari dan putik di atasnya, misalnya pada bunga markisah (Passiflora quadrangularis L.),
e.       cakram (discus); di samping bagian-bagian tersebut di atas pada dasar bunga seringkali terdapat semacam peninggian atau ban­talan berbentuk cakram yang seringkali mempunyai kelenjar­kelenjar madu, misalnya pada bunga jeruk (Citrus sp.).

Bentuk Dasar Bunga
Di muka telah disebutkan, bahwa dasar bunga biasanya menebal atau melebar dan memperlihatkan bermacam-macam ben­tuk, misalnya:

a.       rata, hingga semua bagian bunga duduk sama tinggi di atas dasar bunga, berturut-turut dari luar ke dalam: kelopak, tajuk bunga, benang sari, dan putik, misalnya pada bunga manggistan (Garcinia mangostana L.). Dalam keadaan yang demikian bakal buah dikatakan duduknya men umpang (superus),
b.      menyerupai kerucut, hingga putik yang berada di tengah­tengah duduknya paling tinggi, juga di sini duduknya bakal buah dikatakan menumpang (superus),
c.       seperti cawan. Daun-daun kelopak dan tajuk bunga duduknya seakan-akan pada tepi bangunan seperti cawan tadi, sedang putik di tengah pada bagian dasar bunga yang lebih rendah letaknya daripada tempat duduknya kelopak dan tajuk bunga. Dalam hal ini putik mempunyai bakal buah yang bebas tidak berlekatan dengan pinggirnya dasar bunga. Bakal buah di sinipun masih dikatakan menumpang (superus),
d.      bentuk mangkuk. Juga dalam hal ini kelopak dan tajuk bunga lebih tinggi letaknya daripada putik. Bakal buahnya terletak di bagian dasar bunga yang le,gok dan sebagian bakal buah berlekatan dengan pinggir dasar bunga. Bakal buah dinamakan setengah tenggelam (semi inferus).
Dari uraian mengenai bentuk dasar bunga itu dapat kita lihat, bahwa hiasan bunga dapat lebih tinggi atau lebih rendah letaknya dibanding dengan duduknya bakal buah. Berdasarkan sifat itu bunga dapat dibedakan dalam 3 golongan, yaitu yang:
1.      hipogin (i), jika hiasan bunga tertanam pada bagian dasar bunga yang lebih rendah daripada tempat duduknya putik, misalnya bunga johar (Cassia siamea Lmk.),
2.      perigin (perigynus), jika letak hiasan bunga sama tinggi atau sedikit lebih tinggi daripada duduknya putik seperti pada dasar bunga yang berbentuk cawan, misalnya pada bunga bungur (Lagestroemia speciosa Pers.),
3.      epigin (epigynus), misalnya pada dasar bunga yang berbentuk mangkuk atau piala dengan bakal buah yang tenggelam, sehingga seringkali seakan-akan hiasan bunga duduk di bagian atas bakal buah tadi, misalnya pada bunga daun kaki kuda (Centella asiatica Urban.).

Kelopak (Calyx)
Daun-daun hiasan bunga yang merupakan Iingkaran luar, biasanya berwarna hijau. lebih kecil dan lebih kasar daripada hiasan bunga yang sebelah dalam. Bagian ini disebut kelopak (calyx).
Kelopak itu berguna sebagai pelindung bunga, terutama waktu bunga masih kuncup (sebelum mekar). Jika bunga sudah mengadakan persarian dan pembuahan, biasanya kelopak lalu run­tuh, jarang sekali tetap sampai terbentuk buah. Kelopak yang tetap dan akhirnya ikut merupakan bagian buah misalnya pada ciplukan (Physalis minima L.). terong (Solarium melongena L.).
Kelopak merupakan bagian hiasan bunga yang masih jelas sebagai organ yang beasal dari daun. Selain warnanya yang biasanya hijau, juga bentuknya banyak yang masih menyerupai daun, jarang mempunyai bentuk yang lain, misalnya seperti bulu, seperti terdapat pada bunga tumbuhan yang termasuk suku Com­positae.
Pada bunga daun putri (Mussaenda frondosa L.) salah satu daun kelopaknya amat lebar, berbentuk daun biasa dan mem­punyai warna yang menarik, seakan-akan supaya mendapat perha­tian, oleh sebab itu daun ini juga dinamakan daun pemikat ("lokblad"). Daun pemikat terdapat pula pada bunga tumbuhan lain. hanya saja tidak selalu berasal dari daun kelopak, seperti misalnya pada bugenvil (Bougainvillea spectabilis Wilid.), yang pada setiap kelompok bunga selalu terdapat 3 bunga, masing­masing dengan satu daun pemikat yang berkumpul menjadi satu kelompok, seakan-akan hanya merupakan satu bunga saja, dan warna daun pemikat inilah yang menyebabkan orang banyak menanam bugenvil sebagai tanaman hias. Di sini daun pemikat adalah metamorfosis daun pelindung, bukan metamorfosis daun kelopak.
Pada tumbuhan yang tergolong dalam suku Malvaceae, seperti misalnya kapas (Gossypium sp.), kembang sepatu (Hibiscusrosa-sinensis L.), di luar lingkaran kelopak bunga, bunganya masih mempunyai daun-daun yang menyerupai kelopak, yang pada kapas justru amat besar dan menyelubungi seluruh bunga, yang disebut kelopak tambahan (epicalyx).


Kelopak tersusun atas bagian-bagiannya yang dinamakan daun kelopak (sepala). Pada bunga daun-daun kelopak mem­punyai sifat yang berbeda-beda.
a.       berlekatan (gamosepalus). Pada kelopak biasanya yang berlekatan hanya bagian bawah daun-daun kelopaknya saja, bagian atasnya yang berupa pancung-pancungnya tetap bebas.
Menurut banyak sedikitnya bagian yang berlekatan (atau panjang pendeknya pancung-pancung di bagian atas kelopak), dibedakan 3 macam kelopak, yaitu kelopak yang:
1.      berbagi (partitus), jika hanya bagian kecil daun-daun saja yang berlekatan, pancung-pancungnya panjang, lebih dari separoh panjang kelopak.
2.      bercangap (fissus), jika bagian yang berlekatan kira-kira meliputi separoh panjangnya kelopak, jadi pancung­pancungnya kira-kira juga separohnya.
3.      berlekuk (lobatus), jika bagian yang berlekatan melebihi separoh panjang kelopak, jadi pancung-pancungnya pendek saja.

Pancung-pancung itu sesungguhnya merupakan bagian atas daun-daun kelopak, sehingga dengan menghitung jumlah pancung-pancungnya dapat diketahui pula, kelopak tesusun atas berapa daun kelopak. Dengan mengkombinasikan sifat perlekatan dan jumlah pancung-pancung, kelopak bunga dapat dilukiskan seperti contoh berikut: kelopak berbagi 5, berlekuk bercangap 5, dst.
b.      lepas atau bebas (polysepalus), jika daun-daun kelopak yang satu dengan yang lain benar-benar terpisah-pisah, sama sekali tidak berlekatan.
Melihat simetrinya, bentuk kelopak yang bermacam-macam itu dapat dibedakan dalam 2 golongan, yaitu yang:
a.       beraturan atau aktinomorf (regularis, actinomorphus), jika kelopak dengan beberapa cara dapat dibagi menjadi dua bagian yang setangkup (simetris). Kelopak yang beraturan, a.l. meliputi kelopak-kelopak yang berbentuk:
-          bintang - piala
-          tabung - corong
-          terompet - lonceng, dll
-          mangkuk
b.      setangkup tunggal atau zigomorf (zygomorphus). Kelopak yang bersifat demikian antara lain kita jumpai pada kelopak yang:
-          bertaji (calcaratus), seperti terdapat misalnya pada bunga pacar air (Impatiens balsamina L.),
-          berbibir (labiatus), yaitu kelopak yang bagian bawahnya berlekatan berbentuk tabung atau buluh, bagian atasnya berbelah dua seperti bibir atas dan bawah, misalnya pada bunga salvia (Salvia splendens Ker-Gawl.).
Walaupun tadi telah dikemukakan. bahwa kelopak biasanya berwarna hijau seperti daun biasa. tidak berarti bahwa mengenai hal itu tidak ada perkecualian sama sekali. Nyatanya ada pula kelopak yang mempunyai warna menarik seperti tajuk bunganya, misalnya pada bunga asam (Tamarindus indica Li, ada pula yang selain ber­warna juga bersifat tebal, berdaging, dan dapat dimakan, misalnya pada tumbuhan yang lazimnya dinamakan prambos, tetapi sebenar­nya adalah sejenis rosela (Hibiscus sabdariffa fa. victor).
Tajuk bunga atau Mahkota Bunga (Corolla)
Tajuk bunga atau mahkota bunga merupakan hiasan bunga yang terdapat di sebelah dalam kelopak, umumnya lebih besar, dengan warna yang indah, menarik, dengan bentuk susunan yang bagus, tidak jarang pula mempunyai bau yang harum atau sedap (tetapi banyak pula yang sama sekali tidak berbau atau malahan mempunyai bau yang busuk seperti bangkai), dan dianggapnya bahwa warna yang indah atau baunya tadilah yang menyebabkan serangga tertarik pada bunga (juga binatang-binatang lain, misalnya: burung dan kelelawar) yang seringkali datang mengun­jungi bunga untuk mencari makanan. Tumbuhan memang memerlukan adanya kunjungan binatang-binatang tadi, karena mereka dapat menjadi perantara berlangsungnya penyerbukan,
Jika penyerbukan sudah terlaksana, boleh dikatakan bahwa tugas tajuk bunga sudah selesai, oleh sebab itu biasanya tajuk bunga lalu tampak menjadi layu dan kemudian gugur. Gugurnya tajuk bunga biasanya disertai oleh gugurnya benang sari dan kelopaknya.
Selain berfungsi sebagai alat yang mempunyai daya penarik, tajuk bunga juga berfungsi untuk melindungi alat-alat persarian (benang sari dan putik) sebelum persarian dapat berlangsung.
Bagian-bagian tajuk bunga dinamakan daun tajuk atau - daun mahkota (petala), dan seperti halnya dengan daun-daun
daun-daun mahkota bunga menunjukkan sifat yang :erbeda-beda pula:
a.       berlekatan (sympetalus, gamopetalus, atau monopetalus). Dalam keadaan yang demikian, pada tajuk bunga dapat dibedakan 3 bagian berikut •
1.      tabung atau buluh tajuk
2.      pinggiran tajuk
3.      leher tajuk..
Selain dari itu pada daun-daun tajuk dapat pula ditemukan alat-alat tambahan, seperti misalnya sisik-sisik, rambut-rambut, dll.
b.      lepas atau bebas (choripetalus, dialypetalus, atau polypetalus), jika daun-daun tajuk terpisah-pisah satu sama lain. Dalam kea­daan demikian pada setiap daun tajuk dapat dibedakan:
1.      kuku daun tajuk (unguis), ialah bagian bawah daun tajuk yang tidak lebar dan seringkali lebih tebal daripada bagian lainnya.
2.      helaian daun tajuk (lamina), yaitu bagian yang lebar dan biasanya tipis.
Sama halnya dengan daun-daun tajuk yang berlekatan, juga pada daun tajuk yang bebas satu sama lain itu dapat pula ditemukan alat-alat tambahan lainnya.
c.       daun-daun tajuk tidak ada atau sangat kecil sehingga sama sekali tidak menarik perhatian. Bunga tanpa tajuk bunga (apetalus) seringkali dinamakan pula bunga telanjang (flos nudus).
Sesuai dengan sebutan-sebutan yang digunakan untuk melukiskan daun-daun kelopak atau kelopaknya, dasar itu dipakai pula untuk melukiskan tajuk bunga yang berlekatan, jadi kita dapat menggunakan sebutan: tajuk bunga berbagi 5, bercangap 5 dan seterusnya, disesuaikan dengan banyaknya daun mahkota dan banyak sedikitnya perlekatannya.
Tajuk bunga pun seperti halnya dengan kelopak mempunyai bentuk yang bermacam-macam, dan berdasarkan simetrinya dapat pula dibedakan dalam yang:
a.       beraturan (regularis), bila tajuk bunga dapat dibagi menjadi dua bagian yang setangkup dengan beberapa cara. Bentuk ini jugs dinamakan polisimetris atau bersimetri banyak (regularis atau actinomorphus).
Tajuk bunga yang beraturan meliputi a.l. bentuk-bentuk:
bintang (rotatus atau stellatus), misalnya tajuk bunga lom­bok (Capsicum annuum L.),
tabung (tubulosus), misalnya bunga tabung pada bunga matahari (Helianthus annuus L.),
terompet (hypocrateriformis), misalnya bunga jantan pada papaya (Carica papaya L.),
mangkuk atau buyung (urceolatus),
corong (infundibuliformis), misalnya bunga kecubung (Datura mete L.),
lonceng (campanulatus), misalnya bunga ketela rambut (Ipomoea batatas Poir.).
b. setangkup tunggal, bersimetri satu, atau monosimetris (zigomorphus), jika tajuk bunga hanya dapat dibagi menjadi dua bagian yang setangkup dengan satu cara saja.
Tajuk bunga yang monosimetris atau zigomorf seringkali mempunyai sifat atau bentuk yang khas, misalnya:
bertaji (calcaratus), yaitu jika tajuk bunga mempunyai suatu bagian yang bentuknya mengingatkan kita pada taji pada kaki ayam jantan, misalnya bunga larat (Dendrobium phalaenopsis Fitzg.).
berbibir (labiatus), jika tajuk bunga seakan-akan dibelah dua, sehingga tepinya merupakan dua bibir. Tajuk bunga demikian ini umum terdapat pada jenis tumbuhan yang tergolong suku Labiatae, misalnya: kemangi (Ocimum basilicum L.) dan pada beberapa suku lainnya, a.l. Acan‑haceae, Scrophulariaceae.
mempunyai tajuk yang terdiri atas 5 daun tajuk yang bebas, tetapi 2 di antaranya lazimnya bersatu, merupakan suatu badan berbentuk sekoci atau perahu. Dua daun tajuk yang berlekatan ini biasanya sempit dan terdapat di bagian bawah, biasanya dinamakan lunas (carina).
Berhadapan dengan lunas, jadi di sebelah atas terdapat sehelai daun tajuk yang paling besar (lebar) yang dinamakan bendera (vexillum). Antara kedua bagian tadi terdapat 2 daun tajuk lagi yang ke samping, satu ke kanan dan satunya lagi ke kiri. Kedua daun tajuk ini dinamakan sayap (ala). Ta­juk bunga yang demikian lazim terdapat pada kacang­kacangan (Papilionaceae), misalnya kacang tanah (Arachis hypogaea L.), kedelai (Glycine soja Benth.), dll.
bertopeng atau berkedok (personatus). Tajuk bunga mem­punyai dua bibir seperti bunga yang berbibir, akan tetapi bibir yang bawah melengkung ke atas menutupi lubang buluh ta­juk. Bagian bibir yang melengkung ke atas itulah yang dinamakan topeng atau kedok (palatum), seperti misalnya pada bunga mulut singa (Anthirrhinum majus L.).
berbentuk pita (ligulatus), Bagian bawah tajuk bunga ini berlekatan mempakan buluh atau tabung yang kecil, bagian atasnya berbentuk pita (dengan pada ujungnya sering masih tampak 5 pancung-pancung), yang menunjukkan, bahwa tajuk itu sesungguhnya terdiri atas 5 daun tajuk yang berlekatan menjadi satu. Bunga ini biasanya bunga yang mandul (tidak mempunyai alat-alat kelamin), seperti misalnya bunga-bunga pinggir pada bunga matahari (Helian­thus annuus L.). Pada bunga matahari bunga ini dinamakan pula bunga pita, dan hanya berguna sebagai pemikat saja. Tajuk bunga sungguh beraneka rupa warnanya: merah, putih, biru, kuning, merah jambu, ungu, dll. Warna tadi ada yang rata ada pula yang tidak. Ada tajuk bunga yang warnanya sebagian merah sebagian putih atau lain, ada pula yang berbintik-bintik atau Derbecak-becak, seperti banyak terdapat pada tumbuhan bastar. Tadi telah dikemukakan, bahwa tajuk bunga terutama bertugas sebagai pemikat binatang, oleh sebab itu setelah kunjungan pada bunga yang dapat menyebabkan terjadinya per­sarian, bunga seringkali lalu layu dan kemudian gugur. Biasanya umur tajuk bunga tidak seberapa lama, tetapi ada Pula bunga yang sampai berbulan-bulan belum juga menjadi layu, seperti misalnya bunga anggerik bulan (Phalaenopsis ambilis Bl.). Bila tajuk bunga menjadi layu seringkali kita lihat adanya perubahan warna, misalnya bunga kapas (Gossypium sp.), yang kalau layu berwarna
merah jambu, sedang dalam keadaan segar tajuk bunganya berwar­na kuning. Bunga yang telah layu umumnya tidak menarik lagi.
TENDA BUNGA  (Perigonium)
            Tidak semua bunga mempunyai hiasan bunga yang jelas dapat dibedakan dalam kelopak dan tajuk bunganya. Berbagai jenis tumbuhan mempunyai hiasan bunga yang tidak lagi dapat dibedakan mana kelopak mana dan mana tajuknya, dengan lain perkataan kelopak dan tajuk bunga sama, baik bentuk maupun warnanya. Itulah yang disebut tenda bunga (perigonium).
            Bagian-bagian yang menyusun tenda bunga dinamakan daun tenda bunga (tepala), yang menurut bentuk dan warnanya dapat dibedakan menjadi 2 golongan:
1.      Serupa kelopak (calycinus), jika warnanya hijau seperti daun-daun kelopak. Biasanya tak begitu besar dan tidak begitu menarik. Seperti terdapat pada bunga berbagai jenis palma (palmae).
2.      Serupa tajuk (corolinus), warnanya bermacam-macam seperti warna tajuk bunga, juga biasanya lebih besar dan bentuknya sering kali amat menarik pula, bahkan sering kali lebih menarik daripada tajuk bunga sesungguhnya. Bunga yang termasyhur sebagai bunga yang amat indah dan amat mahal harganya yaitu bunga anggerik (Orchidaceae). Adalah bunga yang mempunyai tenda bunga yan menyerupai tajuk. Selain pada anggerik, bunga yang mempunyai tenda bunga yang indah dapat kita temukan pula pada beberapa suku  lainnya. a. l. lilia (Liliaceae), amaril (Amarillidaceae), iris (iridaceae). dll.
     Pada daun tenda bunga (yang bersifat serupa tajuk) dapat pula dibedakan dua bagiannya, yaitu kuku (unguis) dan helaiannya (lamina). Pada daun tenda bunga dapat pula ditemukan alat-alat tambahan yang berupa sisik-sisik atau rambut-rambut seperi pada daun kelopak atau daun tajuk.
      Pada tenda bunga yang bagian-bagiannya berupa daun-daun tenda bunga ada yang:
a.       Berlekatan (gamophyllus) ( Lilium longiflorum Thunb). Tenda bunga yang berlekatan memperlihatkan bentuk yang beraneka rupa seperti pada tajuk yang berlekatan.
b.      Lepas atau  bebas (pleiophyllus) satu sama lain, seperti misalnya pada kembang sungsang (Gloriosa superba  L.).
Benang sari (Stamen)
            Benang sari bagi tumbuhan merupakan alat kelamin jantan. Seperti halnya dengan bagian-bagian bunga yang diuraikan dahulu. Benang sari pun merupakan metamorphosis daun, yang bentuk dan fungsinya telah disesuaikan sebagai alat kelamin jantan.
            Bahwasanya benang sari merupakan metamorphosis dari daun masih dapat terlihat dengan nyata pada bunga jenis tumbuhan tertentu, misalnya pada bunga tasbih (Canna indica L). Pada tumbuhan ini tajuk bunganya justru tidak begitu menarik. Tetapi yang berwarna indah dan menarik adalah benang sarinya yang bersifat seperti tajuk bunga.
            Pada bagian benang sari dapat dibedakan 3 bagian berikut:
1.      Tangkai sari (filamentum), yaitu bagian yang berbentuk benang dengan penampang melintang yang umumnya berbentuk bulat.
2.      Kepala sari (anthera). Yaitu bagian benang sari yang terdapat pada ujung tangkai sari. Bagian ini di dalamnya biasanya mempunyai 2 ruang sari (theca). Masing-masing ruang sari semula terdiri atas dua ruangan kecil (loculus atau loculumentum).
            Dalam ruang sari terdapat serbuk sari atau tepung sari (pollen). Yaitu sel-sel jantan yang berguna untuk penyerbukan atau persarian. Ada kalanya serbuk sari tidak terbentukatau serbuk sari yang ada tidak mampu untuk mengadakan penyerbukan. Benang sari yang demikian dinamakan benang sari yang mandul
3.      Penghubung ruang sari (connectivum). Bagian ini merupakan lanjutan tangkai sari yang menjadi penghubung kedua bagian kepala sari (ruang sari) yang terdapat dikanan kiri penghubung ini.
Mengenai duduknya benang sari dibedakan 3 macam yaitu:
1.      Benang sari jelas duduk pada dasar bunga.  Tumbuhan dengan bunga yang bersifat demikian oleh DE CANDOLLE dinamakan: Thalamiflorae, misalnya jeruk (Citrus sp.).
2.      Benang sari tampak seperti duduk di atas kelopak, yang sering dapat kita lihat pada bunga yang perigin atau epigin. Tumbuhan demikian oleh DE CANDOLLE dinamakan: Calyciflorae, misalnya mawar (Rosa hybrid Hort.)
3.      Benang sari tampak duduk di ats tajuk bunga. Tunbuhan yang demikian dinamakan: Corolliflorae, a. l. anggota-anggota suku Boraginaceae, misalnya buntut tikus (Heliotropiumm indicum L.)
Mengenai jumlah benang sari pada bunga umumnya dibedakan 3 golongan:
a.      Benang sari banyak, yaitu jika dalam satu bunga terdapat lebih dari 20 benang ari seperti terdapat pada jambu-jambuan (Myrtaceae). Misalnya jambu biji (Psidium guajava L.)
b.      Jumlah benang sari 2 x lipat jumlah daun tajuknya. Dalam hal yang demikian. Benang sari biasanya tersusun dalam dua lingkaran. Jadi ada dua lingkaran. Jadi ada lingkaran luar dan lingkaran dalam. Jika duduknya masing-masing benang sari kita teliti dengan seksama. Maka mengenai duduknya benang sari terhadap daun-daun tajuk ada dua kemungkinan:
1.      Diplostemon (diplostemonus)  benang-benang sari dalam lingkaran luar duduk berseling dengan daun-daun tajuk. Misalnya pada kembang merak (Caesalpinia pulcherima swartz.)
2.      Obdiplostemon (obdiplostemonus). Jika keadaan sebaliknya. Artinya benang-benang sari pada lingkaran dalam lahyang duduknya berseling dengan daun-daun tajuknya, misalnya pada bunga geranium  (Pelargonium odoratissimum Hort).
c.       Benang sari sama banyak dengan daun tajuk atau kurang, yang dalam hal ini duduknya benang sari dapat:
1.      Episepal (episepalus), artinya berhadapan dengan daun-daun kelopak. Berarti pula berseling dengan daun-daun tajuk.
2.      Epipetal (epipitalus) artinya berhadapan dengan daun-daun tajuk.
Bertalian dengan pendek panjangnya benang sari yang terdapat pada satu bunga itu, a. l. dapat dibedakan:
a.       Benang sari panjang dua  (didynamus), jika dalam satu bunga terdapat misalnya 4 benang sari, dan dari 4 benang sari tersebut yang dua panjang, sedang yang dua lainnya pendek.
b.       Benang sari panjang empat (tetradynamus), jika misalnya dalam satu bunga terdapat 6 benang sari. Dan dari 6 tersebut yang 4 panjang dan yang 2 pendek.
Tangkai sari (Filamentum)
            Melihat berkas yang merupakan perlekatan benang-benang sari, dapat dibedakan:
a.       Benang sari berbekas satu atau benang sari bertukal satu (monadelphus). Yaitu jika semua tangkai sari pada satu bunga berlekatan menjadi satu.
b.      Benang sari berbekas dua atau benang sari bertukal dua (diadhelpus), jika benang sari terbagi menjadi dua kelompok dengan tangkai yang berlekatan dalam masing-masing kelompok.
c.       Benang sari berbekas banyak atau benang sari bertukal banyak , yaitu jika dalam satu bunga yang mempunyai banyak benang sari, tangkai sarinya tersusun menjadi beberapa kelompok atau berkas.
Kepala sari (Anthera)
            Merupakan bagian benang sari yang terdapat pada ujung tangkai sari, merupakan suatu badan yang bentuknya bermacam-macam: bulat, jorong, bulat telur, bangun kerinjal, dll.
            Duduknya tangkai sari pada tangkainya dapat bermacam-macam:
a.       Tegak (innatus atau basifixus), yaitu jika kepala sari dengan tangkainya memperlihatkan batas yang jelas.
b.      Menempel (adnatus), jika tangkai sari pada ujungnya beralih menjadi penghubung ruang sari.
c.       Bergoyang(versatilis), jika kepala sari melekat pada suatu titik pada ujung tangkai sari.
Agar serbuk sari keluar dari ruang sari, kepala sari dapat membuka dengan :
a.       Dengan membujur melalui cara : menghadap ke dalam, menghadap kesamping, menghadap keluar.
b.      Dengan melintang, contohnya pada beberapa tumbuhan suka Euphorbiaceae
c.       Dengan sebuah liang pada ujung pangkal, seperti terdapat pada kentang
d.      Dengan kelep atau katup, yang jumlahnya satu atau lebih. Misalnya pada keningar.
 

ShiningSHINee Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea